Bukan salah Trump jika mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel


NAHIMUNKARNEWS.COM -- Bukan salah Trump jika mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel.

Rasulullah bersabda :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
 “Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya. “
Salah seorang sahabat berkata; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?”
Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. “
Kata para sahabat: “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati. “
(HR Abu Daud no. 4297, Ahmad 5/278, Abu Nu’aim dalam At Hilyah l /182 dengan dua jalan dan dengan keduanya hadits ini menjadi shohih)


Sejak tahun 1954, Amerika sudah merencanakan untuk memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerussalem, dan itu sudah menjadi keputusan parlemen Amerika.  Setiap presiden yang berkuasa punya kewajiban untuk melaksanakan rencana tersebut, namun tidak semuanya ‘berani’ dan mau melaksanakan keputusan parlemen Amerika tersbut. Hanya Trump yang ‘berani’ melaksanakan keputusan tersebut,

Hari ini rencana itu terealisasi karena Trump tahu, posisi negara muslim hari ini sedang dalam kondisi lemah. Perang saudara terjadi hampir di semua negara timur tengah yang mayoritas muslim. Praktis negara timur tengah tidak punya kekuatan.

Kekuatan umat Islam sebenarnya terpusat pada 2 poros, yaitu poros Saudi dan Iran. Poros Saudi dengan Wahabinya merangkul Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman dan Qatar. Sementara poros Iran degan Syiahnya menjadi kiblat dari Libanon, Yaman dan Iraq.

Langkah awal yang dilakukan AS adalah merangkul Saudi dengan sekutunya yang dianggap lebih mudah dikendalikan. Amerika menggunakan strategi memecah belah 2 poros tersebut. Target awal adalah Iran dengan syiahnya. Amerika menggunakan tangan Saudi untuk memukul Iran dan syiahnya. Terbukti Saudi dan wahabinya membangun propaganda dalam bentuk pengkafiran terhadap syiah. Baik propaganda dalam bentuk buku maupun bantuan untuk lembaga dengan tujuan mengkafirkan Iran dan syiahnya..

Yang terjadi, Amerika berhasil merusak poros Iran. Mulai dari konflik di Iraq, Libanon dan berlanjut ke Yaman. Praktis, poros Saudi berada di atas angin, dan negara poros Iran bergelimpangan dilanda konflik yang tiada henti.

Sebenarnya ada poros ke-3 yang jauh dari wilayah konflik, yaitu Mesir, Turki dan bahkan Indonesia. Mereka yang diharapkan mampu menjadi pemersatu berbagai negara muslim. Namun poros ke-3 ini tidak lepas dari strategi pecah belah Amerika. Mesir dilanda konflik politik yang 2 tahun belakangan belum berhenti. Turki pun sempat digoncang kudeta yang tidak berhasil. Bahkan Indonesia juga diobok-obok oleh upaya pecah belah, konflik berbau agama akhir-akhir ini semakin merebak.

Trump tahu, kekuatan dunia Islam sekarang terpecah menjadi kecil-kecil, nyaris tidak memiliki daya apapun. Akhirnya Trump berani memindahkan ibu kota Israel ke Yerussalem. Trump yakin, negara Muslim tidak punya kekuatan.

Jika hari ini kita ingin melawan Trump dan Israel, maka tidak ada jalan lain kecuali BERSATU. Jangan salahkan Trump, tapi kita yang salah, karena kita TIDAK BERSATU. Jadikan momen ini sebagai media untuk BERSATU. Selamat Bersatu.

Surabaya,
13 Desember 2017

Penulis: Amrozi Hudaya, "Pemerhati Qur'an Wahid Hasyim dan pengurus NU Menur"

No comments:
Write komentar