[VIDEO] Dialog Cak Nun dan Syiah : Seputar isu Sahabat dan Apa itu Syiah Rafidhoh



NAHIMUNKARNEWS.COM -- Dialog Cak Nun dan Syiah: Seputar isu Sahabat dan Apa itu Syiah Rafidhoh. Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun menilai penolakan terhadap aliran Syiah di Indonesia semata karena masyarakat belum memahami perbedaan di antara keduanya. Cak Nun kemudian mengambil contoh sederhana.

Beberapa waktu yang lalu Cak Nun sempat berbicara dalam dialog publik yang digelar Senat Mahasiswa dan Rayon PMII Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya,
"Perbedaan Syiah dan Sunni itu sama juga dengan perbedaan antara pecel dan rawon," kata Emha ketika menjadi pembicara dialog publik "Haruskah Syiah Ditolak?"

Dengan pengandaian sederhana itu, Emha balik bertanya, apakah pecinta pecel harus mensesatkan pecinta rawon atau sebaliknya? Menurut dia, perbedaan ini sama halnya ketika Nabi selalu menggunakan pakaian yang tidak menutup mata kaki, kemudian mereka yang tidak menutup mata kaki harus dikafirkan.

Dalam kesempatan baru baru ini Emha pun sempat Berdialog santai dengan Ustad dari madzab Syiah, seperti yang dikatakan tak ada perbedaan dalam prinsip prinsip aqidah antara Syiah dan Ahlussunah, jika ada itu hanyalah masalah furuiyah. Silahkan Simak Video dialog antara Emha dan perwakilan dari madzab Syiah berikut ini..



Pada prinsipnya, kata Emha, masyarakat semestinya memahami terlebih dahulu perbedaan antara yang khilafiah dan iktilafiah. Khilafiah adalah perbedaan mendasar, misalnya, paham melarang salat, sedangkan iktilafiah merupakan perbedaan di tingkat yang lebih kecil, seperti Nahdlatul Ulama mengharuskan wirid seusai salat dibaca bersamaan antara imam dan makmum, sedangkan Muhammadiyah mengharuskan wirid dibaca sendiri-sendiri.

Anda pun bisa melihat dialog di sesi kedua dengan tema, "Apa itu Syiah Rafidhoh?" pada video dibawah ini.



"Kalau perbedaanya di tingkat iktilafiah harusnya tidak usah diperpanjang," kata Emha. Kalau pun perbedaan antara Syiah dan Sunni ada di tingkat iktilafiah, Emha menilai wajar jika terjadi gejolak. "Tapi harus dibatasi. Jangan lama-lama dan harus segera berdialog," ujarnya. Menurut Emha, munculnya Syiah di muka bumi disebabkan adanya pertentangan siapa pengganti Nabi Muhammad untuk menjadi khalifah.

Masyarakat Indonesia pada dasarnya sangat toleran. "Buktinya ada empat menteri agama di masa Majapahit," ujarnya.

Sunni atau Ahlussunah juga memiliki akar historis yang tidak bisa dipisahkan dengan Syiah. Dia mencontohkan Imam Malik dan Abu Hanifah, yang merupakan imam orang Sunni, berguru kepada Jakfar Shodiq yang merupakan imam orang Syiah. "Ada rangkaian keilmuan yang turun-temurun," kata dia.(NMn)

No comments:
Write komentar