Wawancara Aljazeera : Negara-negara Arab Harus Belajar Dari Iran

Ilustrasi Talk Show Aljazeera 


ALJAZEERA: NEGARA NEGARA ARAB HARUS BELAJAR DARI IRAN

Bukankah Iran dalam HUT ke-30 tahunnya telah menjadi kekuatan raksasa regional? Bukankah sekarang Arab harus belajar kepada Iran tentang kebangkitan, resistensi, kehormatan, demokrasi, alih-alih memusuhinya?

Bukankah Iran telah menggunakan dananya untuk memroduksi energi nuklir, rudal-rudal jelajah antar benua, dan satelit, sementara negara-negara Teluk menghamburkan uangnya miliaran USD untuk bursa-bursa Teluk dan AS?

Apa gerangan yang dihasilkan oleh Arab selain membangun menara-menara pencakar langit tertinggi yang ternyata berubah menjadi “(tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya (QS. 22.45)” setelah terjadi krisis ekonomi?

Bukankah Iran yang diboikot justru berbangga dengan industri-industri beratnya, sedangkan kita untuk serban dan igal saja malah impor dari Inggris, cendera mata Ramadhan dan kacang-kacangan dari Cina, shisha dari Jepang, dan memesan gadis-gadis dari Amerika?

Bukankah pada pemerintahan Iran presiden telah datang silih berganti, sedangkan di dada kita hanya tertancap satu penguasa yang tak ada duanya selama puluhan tahun? Bukankah popularitas presiden Iran mengungguli popularitas sebagian besar penguasa Arab?

Pernahkah gerakan-gerakan perjuangan Arab mencetak kemenangan tanpa (bantuan) Iran?

(Dierjemahkan oleh Moh Musa dari video penggalan siaran talk show Aljazeera)

No comments:
Write komentar