Sejarah Wahabi Sampai Menjadi Mazhab Resmi di Arab Saudi


Sheikh Qays al-Mubarak, ulama Senior Arab Saudi sebagai Konsultan di dewan lembaga Fatwa Lajnah Daimah. 


NAHIMUNKARNEWS.COM --  Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb berasal dari keluarga klan Tamîm. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H [1700 M] Masehi dan meninggal di Dar’iyyah. tahun 1206 H [1792 M.].

Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 14 M.. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashra [Irak], Damaskus {Siria], Iran, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia kawin dengan seorang wanita kaya. Lalu berpindah ke Basra dan mengajar selama 4 tahun di sana.

Ketika pulang ke kampung halamannya, ia menulis buku yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, Kitâbut’Tauhîd . Para pengikutnya menamakan diri kaum Al-Muwahhidûn atau as-Salafiyun. Ia kemudian pindah ke ‘Uyaynah. Saat sering memberikan khotbah Jumat di ‘Uyaynah, ia terang-terangan mengafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi.

Di kota ini ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi.

Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah, lalu kaum sufi, kemudian ia mulai menyerang kaum Sunni. Segala yang dianggapnya tidak dilakukan Nabi, dianggap bid’ah. Tapi ia sendiri tidak melakukan penelitian yang cermat terhadap biografi Nabi. Itu sebabnya, saat pemerintah Saudi ‘terpaksa’ menggunakan telepon, TV, radio dan lain-lain, kaum Wahabi ini melakukan perlawanan keras. Tetapi hadis-hadis yang mewajibkan Muslim taat pada pemerintah yang baik maupun yang fasik yang banyak sekali jumlahnya, digunakan pemerintah untuk menahan dan menganggap mereka sebagai pembangkang bahkan teroris.

Ketika masyarakat mulai merasa seperti duduk di atas bara, ia diusir penguasa [amîr] setempat pada tahun 1774.Ia lalu pindah ke Al-Dar’iyyah, sebuah oase ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ûd, masih di Najd Tahun 1744 Muhammad bin Su’ûd, amir setempat dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb saling membaiat untuk mendirikan negara teokratik dan mazhabnya dinyatakan mazhab resmi Ibnu Su’ûd sebagai amîr dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb jadi Qhadi (hakim agung). Ibnu Su’ûd mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb.

Penaklukan-penaklukan pun dilakukan, terhadap para kabilah dan kelompok yang menolak mazhab mereka, termasuk Makkah dan Madinah dan akhirnya bentuk pemerintahannya berubah dari emirat menjadi kerajaan Saudi Arabia sejak tahun 1932 sampai sekarang.

Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syî’ah di Karbalâ’. Seorang penulis Wahhâbi menulis: ‘Pengikut Ibnu Su’ûd mengepung dan kemudian menyerbu ke kota itu. Mereka membunuh hampir semua orang yang ada di pasar dan rumah-rumah. Harta rampasan [ghanîmah] tak terhitung Mereka hanya datang pagi dan pergi tengah hari, mengambil semua milik mereka.
Hampir dua ribu orang dibunuh di Karbalâ’ (lihat : Utsmân bin Bisyr, Unwân al-Majd fî Târîkh Najd , akkah, 1349, jilid 1, hlm 121-122).

Muhammad Finati, seorang mualaf Italia yang ikut dalam pasukan Khalifah ‘Utsmaniyyah yang mengalahkan kaum Wahhâbi menulis :

‘Sebagian dari kami yang jatuh hidup-hidup ke tangan musuh yang kejam dan fanatik itu, .dipotong-potong kaki dan tangan mereka secara semena-mena dan dibiarkan dalam keadaan demikian. Sebagian dari mereka, aku saksikan sendiri dengan mata kepala tatkala kami sedang mundur. Mereka yang teraniaya ini hanya memohon agar kami berbelas kasih untuk segera mengakhiri hidup mereka.’

Kabilah-kabilah yang tidak mau mengikuti mazhab mereka dianggap kafir ‘yang halal darahnya’. Dengan demikian mereka tidak dinamakan perampok dan kriminal lagi, tapi kaum ‘mujâhid’ yang secara teologis dibenarkan membunuh kaum ‘kafir’ termasuk wanita dan anak-anak, merampok harta dan memperkosa istri dan putri-putri mereka yang dianggap sah sebagai ghanîmah (Red : bentuk yang sudah sempurna adalah Teroris ISIS) . Hanya sedikit yang dapat melarikan diri.

Setelah lebih dari 100 tahun kemudian, kekejaman itu masih juga dilakukan. Tatkala mereka memasuki kota Thâ’if tahun 1924, mereka menjarahnya selama tiga hari. Para Qhadi dan ulama diseret dari rumah-rumah mereka, kemudian dibantai beserta ratusan lainnya yang dibunuh.

Kemenangan suku badui dari klan Saud sangat bergantung pada dukungan Kolonialisme Inggris. Berkat kucuran dana, suplay senjata dan pendidikan keterampilan, kekuasaan Ibnu Su’ûd menyebar ke seluruh Jazirah Arab yang masa itu berada dalam kekhalifahan ‘Utsmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu.
Orang bisa membacanya dalam buku Hamsfer, ‘Confession of a British Spy’.

Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia
Dilaporkan bahwa tatkala Istambul mengirim pasukan yang dipimpin Muhammad ‘Alî Pasha, yang masa itu menjadi gubernur khilafah ‘Utsmaniyah di Mesir, berhasil menangkap Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb yang diduga berencana menyerbu Mekkah lalu diborgol ke Istambul. Pengadilan Syari’ah memutuskan ia bersalah melakukan pembunuhan, perampokan dan pemberontakan.
Sedang para mufti empat mazhab memvonisnya sebagai kafir dan murtad.

Tahun 1206 H [1792 M.] karena menolak bertobat ia dihukum mati. Mayatnya dibakar karena tidak boleh dikuburkan di pekuburan.
Umumnya kaum intelektual dan ulama Sunnî – penganut 4 mazhab ‘resmi’ Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali– menganggap kaum Wahhabi, termasuk pendirinya, sebagai kelompok yang berpikir sangat linier, literer sambil menolak metafor [majâz], sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’ân maupun hadis.

Mereka menganggap mazhab selain yang mereka anut sebagai sesat dan menyesatkan dengan berpatokan pada hadis: ‘Kullu bid’ah dhalâlah wa kullu dhalâlah fî n-nâr’, semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka. Dengan demikian, bid’ah hanyalah euphemism, kata pelembut, untuk ‘kafir’. Misalnya, mereka menganggap berziarah ke kubur termasuk kubur Nabi, tawassul, baca qunût, talqîn. tahlîl, istighâtsah berzikir berjamaah, membaca burdah berupa puji-pujian pada Nabi yang biasa dilakukan kaum Muslimin adalah bid’ah, dan pelakunya akan masuk neraka, alias kafir.

Pada masa awalnya, di tempat asalnya, Saudi, mereka menolak penggunaan telepon, radio dan televisi, karena dianggap bid’ah ( baca juga: bahkan ulama konservatif Arab Saudi sampai saat ini melarang penggunaan Handphone) .

Sumber ; PKSPUYENGAN

3 comments:
Write komentar
  1. Wah tulisan diatas terlalu berlebihan menyudutkan Salafiyun (bukan Wahabi) silahkan baca Wahabi tentang Wahabi yang Aslinya, bukan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb

    ReplyDelete
  2. Wah... Ente kalo ngaji ga pernah di teliti sih, dari ceramhnya aja udah jelas ustd2 yang ente bilang salafiyun itu mengamalkan aqidah tauhid syekh muhammad bin abdul wahhab.
    Pesan ana kalo ente bener2 pengen di jalan yang lurus jangan fokus ngaji di 1 kelompok aja, ente harus ngaji di kelompok2 yg laen yg berbeda pendapat supaya ente lebih ngerti dan ente bisa milih yang terbaik dari yang baik,

    ReplyDelete
  3. Wahabi itu apa ya...
    Kok sering amat disebutin buat mereka yang gak sejalan ama pemahaman islam nusantara ya

    ReplyDelete