WAHABI: Berkedok Tablig Akbar Untuk Membantu dan Merekrut Teroris ke Suriah

Masjid al-Ma’ruf, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar tablig akbar dukungan bagi muslim di Suriah dan Palestina. Tablig akbar dengan tema ‘Pertahankan al-Aqsha di dan Bantu Suriah’ ini digelar pada Minggu, 29 November 2015.

Banner teroris Berkedok ajakan membantu Alaqsha Palestina dan Teroris Suriah 

Tablig akbar yang diselenggarakan Syam Organizer (S.O) itu mendatangkan penceramah dari Jakarta Abu Uways Asy-Syami. Tablig akbar rencananya diisi pemutaran perang Suriah dan tragedi Palestina yang terjadi di Gaza.
Sebelumnya Sabtu tanggal 28 November 2015  Mesjid al-Fatihah kampus Universitas Mulawarman yang menjadi pusat kajian dan dakwah Mahasiswa menggelar tablig akbar serupa. Namun, dua tablig akbar di Samarinda itu dituding sarat ujaran kebencian dan provokasi kepada massa yang hadir untuk membenci kelompok Syiah.
Badrul Munir, ketua Aktivis Aliansi Pembela Islam & Pancasila (API-PANCASILA) yang hadir pada acara itu mengatakan, tablig akbar yang mengajak dukungan untuk muslim di Suriah dan gaza hanyalah kedok belaka. Mereka mengusung agenda radikalisme dan intoleransi dengan menebarkan ujaran kebencian.

Tablig akbar dengan tema ‘Pertahankan al-Aqsha dan Bantu Suriah’ di Masjid Al-Ma’ruf Samarinda Minggu 29 November 2015, terindikasi mengusung ideologi teroris dan ujaran kebencian

“Tablig akbar selama dua hari di fokuskan pada penggalangan dana dimana  posisi penyelenggara adalah pro kekuatan pemberontak anti rezim Suriah,” kata Munir usai menghadiri acara itu.
Munir mencurigai baik penyelenggara maupun pembicara merupakan kelompok radikal yang mengusung agendan transnasional dengan membuat plot konflik Sunni-Syiah. Modus yang digunakan untuk menarik dukungan umat Islam dengan membawa isu Suriah dan Gaza.
Ia mencontohkan, penceramah menyebutkan bahwa Bashar al Assad digambarkan sebagai seorang Syiah yang membunuh rakyatnya sendiri. “Penceramah mengajak untuk memusuh Syiah dengan menyebut Syiah bukan Islam. Akibatnya muslim Syiah yang ada di Indonesia menjadi sasaran untuk dimusuhi,” kata Munir.
Satu Islam yang menerima rekaman audio ceramah dalam tablig itu sang penceramah menyebutkan Syiah bukan dari Islam. “Mereka orang-orang Suriah mengatakan, kamu Syiah bukan muslim… Mereka juga mengatakan dari kelompoknya ABI, dari kelompoknya IJABI,  kamu Syiah bukan Islam,” seru sang penceramah.
Menurut Munir, provokasi, ujaran kebencian dan adu domba umat sangat dominan dalam tablig akbar itu. Dalam tablignya penceramah juga meminta dukungan dana dari massa. Akibatnya, masa yang hadir  tambah bersemangat mendonasikan apa saja yang mereka miliki.
“Ada yang menyerahkan uang ada pula yang memeberikan perhiasan emas di tambah lagi acara tablig akbar itu didukung oleh situs-situs radikal pro teroris yang beberapa waktu lalu sempat di blokir Kementrian kominfo atas rekomendasi dari BNPT,” katanya bersemangat.
Munir memprihatinkan kondisi umat Islam yang mudah dipecah belah melalui isu mazhab. “Islam itu ramah dan Rahmatan Lil Alamin kita kembalikan saja semangat dan metode dakwah seperti zaman Rasul dan para Sahabat, mereka berdakwah  dengan keteladanan dan nasihat yang baik dan memasukkan orang kafir ke dalam Islam tapi fenomena kaum Muslimin dewasa ini sibuk saling berperang atas nama mazhab dan golongan dengan mengeluarkan sesama saudara muslim dengan saling menyesatkan dan mengkafir-kafirkannya.
Munir menyayangkkan terselenggaranya acara tersebut. Dirinya menilai Mesjid al-Ma’ruf Samarinda dan MUI Kaltim kecolongan sehingga menyetujui tablig akbar yang sarat provokasi ujaran kebencian. Hal ini kata Munir, lantaran kemegahan Mesjid al-Ma’ruf tidak diimbangi dengan pengetahuan para pengurusnya dalam melihat kelompok mana yang moderat dan kelompok mana yang radikal.
Selain itu, lanjut Munir, pihak MUI juga tidak cukup cakap untuk mengidentifikasi kelompok dengan mengatasnamakan lembaga-lembaga kajian Mahasiswa yang menyelenggarakan acara tersebut terindikasi dari kelompok radikal. Akibatnya MUI mudah dikelabuhi.
“Kewaspadaan kita sebagai bangsa Indonesia saat ini dituntut ekstra lebih dalam mengantisipasi penyebaran ideologi radikal dengan mengatasnamakan agama, kenali dan fahami ciri-ciri mereka dari tampilan fisik sampai doktrin -doktrin ajarannya yang menyimpang,” pesannya.[Satu Islam] 

No comments:
Write komentar