Dana PAUD Capai 68 Milyar Anis Tunjuk Istrinya Jadi Bunda PAUD

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menunjuk Fery Farhati, selaku istrinya, sebagai Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) DKI Jakarta.


NAHIMUNKARNEWS.COM -- Dana PAUD Capai 68 Milyar  Anis Tunjuk Istrinya Jadi  Bunda PAUD. Pasangan memperlihatkan sikap romantis saat pengukuhan di halaman parkir Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).

Berdasarkan pemantauan, dari atas panggung, Anies menyematkan selempang kepada Fery. Lalu, Fery menyambut penyematan selempang dengan mencium tangan suaminya.

Lantas, Anies menggapai tangan istri dan berbalik mencium tangan istri di depan para tamu undangan. Para tamu undangan bersorak-sorai melihat sikap romantis pasutri itu.

"Selamat bekerja buat bunda PAUD, Insya Allah Jakarta jadi ladang pahala bagi semuanya," kata Anies, Kamis (16/11/2017).

Menurut dia, hanya Indonesia yang memiliki Bunda PAUD. Oleh karena itu, dia meminta kepada jajarannya untuk bekerja secara maksimal memberikan pendidikan kepada anak-anak.

"Saya ucapkan selamat pengurus forum lembaga dan gebyar PAUD yang hari ini kita luncurkan. Insya Allah berimplikasi besar," tambahnya.

Tahun 2018, DKI Kucurkan Anggaran Rp 68 Miliar untuk PAUD

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Mohamad Taufik mengapresiasi rencana pemerintah daerah untuk menganggarkan dana bagi PAUD yang ada di wilayah DKI Jakarta. Hal ini diungkapkannya di sela acara Gerak Jalan Sehat Berkreasi Pahlawan Generasi Emas Pendidik PAUD Se-DKI, di Monas, Minggu (19/11/2017).
Sebagai bentuk konkret, DPRD pun mendukung alokasi dana Rp 68 miliar untuk PAUD tahun ini.
"DPRD mengapresiasi langkah pemerintah daerah di bawah Pak Anies. Sepanjang sejarah ada PAUD di DKI Jakarta, baru pada 2018 dianggarkan untuk PAUD dari Provinsi DKI Jakarta," ucap Taufik.
Taufik mengungkapkan, tahun 2018 pemerintah telah menganggarkan dana untuk PAUD Rp 68 miliar. Dana ini nantinya akan digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan para tenaga pendidik PAUD.
"Saya kira dana tersebut di tahun-tahun mendatang harus ditingkatkan. Sekali lagi DPRD mengapresiasikan langkah yang diambil pemerintah," ucap Taufik.
Di lokasi yang sama, Anies sebelumnya mendengarkan keluharan guru-guru PAUD yang merasa tak diperhatikan. Meski sama-sama mengajar anak dan memberikan ilmu, mereka tak dihargai layaknya seorang guru.

Atas keluhan itu, Anies berjanji menyejahterakan guru-guru PAUD. Bahkan, Anies menuturkan, alokasi anggaran dalam APBD DKI nantinya juga untuk memperbaiki fasilitas PAUD.(tribun/Kompas/NMn]

Tertarik Dengan Islam Nusantara Maroko dan Mesir Undang Ceramah Ketua PBNU


Nahimunkarnews.com -- Tertarik Dengan Islam Nusantara Maroko dan Mesir Undang Ceramah  Ketua PBNU. KH. Said Aqil Siroj menegaskan bahwa NU tidak akan surut memerangi ekstremisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama Islam.

“Tak peduli orang lain mau bilang apa karena ini juga demi Islam,” kata Said Aqil saat konferensi pers menjelang pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Kantor PBNU, Jakarta, Senin.

Munas Alim Ulama dan Konbes NU digelar di Nusa Tenggara Barat tanggal 23-25 November dengan tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga. Presiden Joko Widodo dijadwalkan membuka forum permusyawaratan setingkat di bawah muktamar itu.

Menurut Said Aqil, NU bersemangat memerangi ekstremisme terorisme yang mengatasnamakan agama Islam karena justru mencoreng wajah Islam sendiri. 



“Di Al Quran itu disebutkan tidak ada yang paling jahat melebihi orang yang melakukan kejahatan atas nama Tuhan atau Islam. Itu paling jahat,” katanya.

Bahkan, lanjut dia, Nabi Muhammad SAW telah memprediksi bakal munculnya orang-orang yang membaca Al Quran, tetapi tidak paham substansinya sehingga mereka melakukan tindakan yang mereka anggap sesuai tuntunan Islam, padahal sebaliknya.

Ia pun kembali mencontohkan pelaku pembunuhan terhadap khalifah yang juga menantu Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib, yang menyebut tindakannya itu juga demi Islam.

Jadi, kata Said Aqil, radikalisme terorisme sama sekali bukan ajaran Islam, justru bertentangan dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Menurut dia, Islam moderat, Islam Nusantara, Islam yang ramah yang selama ini dipraktikkan umat Islam Indonesia itulah wajah Islam yang sebenarnya.

“Arab sendiri kini ingin seperti Indonesia. Saya diundang ceramah tentang Islam Nusantara di Al Azhar Mesir dan di hadapan raja Maroko,” katanya.

Tapi, anehnya, kata dia, justru orang-orang Indonesia yang beberapa tahun belajar di Arab, pulang ke Tanah Air bersikap dan bertingkah lebih Arab daripada orang Arab itu sendiri.[Antara/NMn]

Menag: Umat Islam Hendaknya Mencontoh Habib Ali Kwitang Yang Ajarkan Toleransi Dan Perdamaian


Nahimunkarnews.com -- Menteri agama berpesan kepada Umat Islam Hendaknya Mencontoh Habib Ali Kwitang Yang Ajarkan Toleransi Dan Perdamaian. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap Habaib (jamak dari Habib) melanjutkan kiprah dakwah leluhurnya dalam dakwah sufistik di Indonesia.

Harapan ini disampaikan Menag saat membuka International Conference on the Dynamics of Hadhramis in Indonesia di Jakarta. Konferensi ini digelar LIPI bekerjasama dengan The Hadhramaut Center for Historical Research Documentation and Publication, Menara: Study and Research Center of Arab Descents in Indonesia, serta Balai Litbang Agama Jakarta.

Tampak hadir, Kepala LIPI Bambang Subiyanto dan sejumlah Duta Besar negara sahabat, seperti Mesir, Yaman, dan Palestina. Konferensi ini diikui para peneliti LIPI dan juga akademisi.

“Kita berharap golongan Sayyid atau Habaib melanjutkan kiprah para leluhurnya dalam dakwah perkembangan Islam di Indonesia,” tuturnya, di Jakarta, Rabu (22/11).

Menag mencontohkan dakwah yang dilakukan oleh Habib Ali bin Abdurrahman melalui Majelis Taklim di Kwitang yang bertahan hingga lebih dari satu abad. Menurutnya, inti ajaran Habib Ali yang terkenal juga dengan sebutan Habib Kwitang berlandaskan tauhid, solidaritas sosial, dan akhlaqul karimah.

Menurut Menag, ajaran dakwah Habib Ali berupa pelatihan kebersihan jiwa, tasawuf mu’tabarah, dialog antara makhluk dengan al-Khalik serta antara sesama makhluk. “Kita tidak pernah mendengar Habib Ali mengajarkan ideologi kebencian, berpolitik praktis, iri, dengki, ghibah, fitnah, dan namimah atau adu domba,” ujarnya.

“Habib Ali mengembangkan tradisi kakek-kakeknya dari Ahlul Bait yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghotmati hak setiap manusia tanpa membedakan latar belakang status sosial mereka,” sambungnya.

Menag menilai, hakikat dakwah mereka adalah akhlak. Perilaku mereka menjadi contoh dan teladan yang sangat baik bagi Muslim Indonesia selama ini. Mereka mengajarkan kedamaian, kesejukan, dan keramahtamahan.

“Ini yang menurut saya penting dalam konteks kekinian, di tengah kontestasi politik yang sangat keras, tekanan intensi kehidupan yang semakin kompleks, maka kita harus kembali kepada akhlak mulia, kepada ajaran pendahulu kita, khususnya para habaib, sayyid, dan mereka yang memiliki kedalaman ilmu agama,” tandasnya.

“Saya kira dakwah sufistik Habaib yang mengedepanan akhlak mulai sejak zaman dulu dan diikuti Walisongo dan dai lainnya inilah yang berhasil mengislamkan nusantara,” imbuhnya.

Menag mengapresiasi konferensi strategis ini.  Ada enam isu utama yang akan dibahas, yaitu: pertama, peran keagamaan dan pengaruh Hadrami (komunitas Arab yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan) di Indonesia.

Kedua, diaspora orang hadromi; ketiga, politik kontemporer dan nasionalisme orang hadromi; keempat, identitas budaya hadrami (bahasa, musik, seni, sastra, makanan, dan pakaian); kelima, identitas sosial hadrami (pernikahan, sistem kekeluargaan, serta hubungan dengan masyarakat lokal); dan keenam, aktivitas orang hadrami dalam perdagangan.

“Keberadaan Hadromi yang datang dari Hadramaut Yaman Selatan itu sudah panjang sejarahnya. Kontribusi mereka bagi bangsa dan negara juga sangat besar. Selain mengembangkan kebudayaan, kesenian, kebudayaan, juga yang penting adalah mengembangkan nilai agama sehingga kehidupan masyarakat Indonesia berjalan dengan baik,” ucapnya.

Konferensi internasional ini menghadirkan sejumlah Narasumber yang hadir, antara lain: Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Syed Farid Alatas (National University Singapore), Huub de Jonge (Radbound University, Netherlands), serta Martin Siama (Austrian Academy os Sciences).[Kemenag/NMn]

Kapolri: Yang Ganggu Keberagaman dan Kebhinekaan, Pukul!


Nahimunkarnews.com -- Kapolri, Yang Ganggu Keberagaman dan Kebinekaan, Pukul! Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan Indonesia memiliki bangsa yang sangat beragam. Tito menegaskan siapa pun yang mencoba mengganggu keberagaman itu harus 'dipukul'.

"Rule of law juga harus kita tegakkan, harus persuasif, tidak bisa, penegakan hukum harus tegas. Bukan kita anti-agama tertentu, anti-kelompok tertentu, nggak. Tapi siapa pun yang ganggu keberagaman dan kebinekaan, yang sudah kita nyatakan kita adalah bangsa yang beragam, berbeda suku, agama, dan ras," kata Tito di gedung BEI, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (20/11/2017).

"Yang mengganggu 'pukul', kira-kira begitu," sambungnya.

Baca juga: [VIDEO]KAPOLRI: Masyarakat Mayoritas Jangan Diam Melihat Kelompok Yang Ingin Mendirikan Khilafah

Saat ini sebagian masyarakat, menurut Tito, cenderung mengartikan demokrasi itu sebagai kebebasan. Padahal Tito menilai ada kewajiban yang harus dipenuhi masyarakat agar demokrasi itu berjalan tetap aman dan damai.

"Nah menghadapi situasi seperti ini, saya berpendapat bahwa stabilitas politik dan keamanan ini, konflik-konflik yang potensial terjadi harus dikelola, semua mekanisme penanganan konflik secara proaktif harus diaktifkan," tuturnya.

Pada dasarnya, kata Tito, demokrasi memiliki nilai-nilai positif, seperti adanya check and balances, yang akan menguatkan sistem kelembagaan pemerintahan. Dengan adanya hal itu, masyarakat dapat berpartisipasi dalam menentukan arah pembangunan.

"Demokrasi baik karena di dalamnya akan ada sistem yang kuat, adanya check and balances, pemerintah dikoreksi oleh rakyat, rakyat berpartisipasi aktif dalam menentukan arah pembangunan, arah bangsa ini sehingga pemerintah tidak otoriter. That's fine. Idealnya seperti itu," terang Tito.

Namun Tito berpendapat demokrasi juga dapat berdampak negatif jika diterapkan pada masyarakat yang didominasi lower class. Dalam konteks ini, demokrasi cenderung diartikan sebagai kebebasan untuk berbuat apa saja.

"Tapi persoalannya, yang perlu kita waspadai adalah demokrasi ini juga memiliki dampak negatif karena diterapkan pada masyarakat Indonesia yang masih didominasi oleh low class," ujarnya.

Menurutnya, demokrasi akan berjalan baik jika masyarakatnya telah didominasi higher class. Dalam kategori ini, masyarakat akan memahami secara utuh konsep kebebasan berkumpul dan berserikat dalam berdemokrasi.

"Demokrasi yang baik kalau diterapkan di masyarakat yang didominasi oleh higher class karena mereka memahami demokrasi, mereka memahami hak-hak mereka, mereka memahami arti unjuk rasa, mereka memahami arti kebebasan berserikat dan berkumpul, namun diterapkan dengan masyarakat dengan didominasi lower class, mereka yang kurang terdidik, mereka yang secara ekonomi less fortunate, kurang beruntung, maka yang kita dikhawatirkan demokrasi diterjemahkan oleh mereka boleh berbuat apa saja," tuturnya.[Detik/NMn]

Assad: Terima kasih Rusia Telah Selamatkan Suriah Dari Teroris

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) menyambut presiden Suriah, Bashar al-Assad, di Laut Hitam, Sochi, 20 November 2017. Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin via REUTERS


Nahimunkarnews.com --Presiden Suriah Bashar al-Assad memeluk erat Presiden Vladimir Putin setibanya di resor Black Sea di kota Sochi, Rusia, Senin, 21 November 2017.

Assad mengucapkan terimakasih kepada Rusia karena telah menyelamatkan Suriah dengan operasi militernya menghadapi kelompok teroris ISIS.

Putin dan Assad bertemu empat mata untuk membahas situasi di Suriah dan perang melawan terorisme yang telah berlangsung selama tujuh tahun, seperti dikutip dari Al Jazeera, 22 November 2017.

Pertemuan Putin dan Assad berlangsung selama sekitar 4 jam, seperti dilaporkan kantor berita RIA.

"Operasi militer sungguh segera akan berakhir," kata Putin kepada Assad, seperti dikutip dari New York Times. "Saatnya sekarang untuk bekerja mewujudkan penyelesaian politik dalam jangka panjang."

Assad pun menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi dengan berbagai pihak yang berminta menyelesaikan konflik di Suriah.

"Saya senang melihat kesiapan anda untuk bekerja dengan setiap orang yang ingin membangun perdamaian dan menemukan solusi," kata Putin.

"Kami harus akui operasi yang dibuat memungkinkan untuk memajukan proses penyelesaian politik di Suriah," ujar Assad merespons dan kemudian merangkul Putin lalu menyalami barisan jenderal yang hadir dalam pertemuan itu.

Sejak perang sipil memberangus ISIS pecah di Suriah tujuh tahun lalu, baru dua kali Assad ke luar dari negaranya. Pertama, tahun 2015 untuk bertemu Putin di Moscow. Kedatangannya tak lama setelah Rusia memulai operasi militer dengan melancarkan serangan udara ke ISIS di Suriah. Kedua, pertemuannya di Sochi untuk membahas Suriah setelah ISIS dinyatakan kalah di Suriah.

Selain Rusia, Suriah juga mendapat bantuan dari sekutu utamanya, Iran dan milisi Lebanon, Hizbullah. Assad pun mengucapkan terimakasihnya kepada sekutunya.

Pertemuan Assad dan Putin di Sochi tersebut berlangsung sehari sebelum pertemuan tingkat tinggi Rusia dengan Turki dan Iran untuk membahas penyelesaian perang sipil di Suriah.

Perang melawan ISIS selama 7 tahun di Suriah telah menewaskan sekitar 475 ribu orang dan lebih dari 12 juta penduduk Suriah mengungsi.[Tempo/NMn]